
Sepanjang perjalanan kembali ke Pizza Nana, motorku melaju seolah tanpa menapak aspal. Pikiranku masih tertinggal di depan pagar rumah bergaya mediterania itu, tepat di senyum Rani yang kadar manisnya bisa memicu diabetes tipe dua. Ya Tuhan, apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Atau sekadar halusinasi pemuda kurang gizi yang otaknya belum bersih dari cairan pembasmi serangga?
Lamunanku buyar ketika suara klakson metromini membawaku kembali ke realita. Aku menunduk melihat seragam pengantarku. Warnanya merah terang, sangat kontras dengan masa depanku yang gelap.
“Tiga puluh delapan menit!” teriak Bu Mirna tepat saat kakiku baru saja menginjak lantai toko. Wajahnya ditekuk, lebih mirip origami gagal. “Kamu habis ngapain aja, Alan? Ingat peraturan nomor tiga!”
“Maaf, Bu. Tadi ada perbaikan jalan…” alasanku ngeles, padahal memang aku terlalu lama bengong memandangi wajah Rani.
Bu Mirna mendengus kasar, lalu masuk ke ruangannya sambil membanting pintu. Deni yang sedang melipat kardus menepuk pundakku. “Sabar, Lan. Mantan tunangannya Bu Mirna baru aja update foto di Bali sama pacar barunya. Kita semua kena imbasnya hari ini.”
Aku tersenyum kecut. Sepulang kerja, badanku rasanya seperti dikeroyok warga. Setibanya di kosan, aku disambut Rano dan Ahmad yang sedang asyik menghitung profit penjualan gorengan. Dengan menggebu-gebu, kuceritakan pertemuanku dengan Rani. Bukannya didukung, aku malah diceramahi.
“Lan, dengerin gua ya,” Rano menaruh bakwannya, wajahnya mendadak serius. “Cewek kayak gitu tuh makannya sushi, bukan pecel lele kayak kita. Lu jangan ngarep ketinggian, nanti jatohnya sakit. Mending lu pikirin tuh skripsi yang ditolak sama dosen botak itu.”
Ucapan Rano meluncur mulus bak anak panah dan menancap tepat di ulu hati. Nyesek. Aku merebahkan diri di atas kasur, menatap langit-langit kamar, membiarkan kipas Miyako menyejukkan hatiku yang mendadak panas.
Benar juga kata Rano. Siapa aku? Mahasiswa tingkat akhir yang usulan skripsinya soal “Pengaruh Tangga Putar terhadap Keharmonisan Rumah Tangga” ditolak mentah-mentah oleh Pak Bagyo. Pengantar pizza yang gajinya hanya cukup buat beli kuota dan makan di warteg. Kesedihan perlahan merayap naik ke dada. Apa aku pantas bermimpi untuk sekadar menyapa Rani lagi? Mengingat senyumnya saja kini terasa seperti dosa bagi gembel sepertiku. Rasanya aku ingin menelepon Ibu di Jogja dan menangis, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak merepotkannya lagi.
Keesokan harinya, mendung menggantung tebal di langit Jakarta. Hujan turun rintik-rintik, seolah sangat paham dengan isi hatiku yang sedang kelabu. Suasana di Pizza Nana lumayan sepi, sampai Ningrum berteriak dari meja kasir.
“RINTO! PIZZA OUT TO RANI!! KOMPLEK MEDITERANIA!”
Jantungku berdegup kencang. Rani? Dia pesan lagi?
Aku langsung menoleh ke arah Rinto yang sedang bersiap memakai jas hujan.
“To, buat gua aja ya pesenannya?” mohonku sambil memegang lengannya.
“Wah, gak bisa Lan. Ini rejeki gua,” tolak Rinto.
“Gua traktir es teh manis di warteg sebulan!”
“Deal!” Rinto menyerahkan kotak pizza itu padaku dengan kecepatan penuh.
Aku menerobos hujan Jakarta. Persetan dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Mengingat tanggung jawab poin satu dan dua dari Pak Prapto, kumasukkan kotak pizza itu ke balik jaketku, melindunginya dengan tubuhku sendiri. Biar aku yang basah kuyup, asal pizza Rani tetap hangat dan tidak tumplek.
Sesampainya di sana, dengan tubuh menggigil aku memencet bel.
“Ting… tong…”
Pintu terbuka. Rani berdiri di sana, kali ini memakai sweater rajut abu-abu kebesaran. Matanya yang indah membulat kaget melihatku yang basah kuyup seperti kucing tercebur got.
“Astaga, Mas Alan? Kok basah kuyup begini?” tanyanya.
Tunggu. Dia ingat namaku! Mutiara Samudera Hindia ini ingat nama pemuda miskin sepertiku!
“Iya Mbak Rani, hujannya lumayan deras. Tapi tenang, pizzanya tetap hangat, bentuknya sempurna, dan sampai kurang dari 30 menit,” ucapku bangga sambil mengeluarkan kotak pizza dari balik jaket dengan gerakan layaknya pesulap.
Rani tertawa kecil. Tawa yang mengalihkan duniaku sejenak dari pahitnya skripsi dan kejamnya omelan Bu Mirna. “Mas Alan ini ada-ada aja. Sebentar ya…”
Ia masuk sebentar ke dalam rumahnya, lalu kembali menyodorkan lembaran uang, plus sebuah handuk kecil yang kering dan wangi. “Dipakai dulu Mas handuknya, biar nggak masuk angin.”
Tanganku yang dingin dan gemetar menerima handuk itu. Hangat. Sama hangatnya ketika Ibu menggenggam tanganku saat aku siuman di rumah sakit. Hari itu, di bawah guyuran hujan ibukota yang tak kenal ampun, aku mungkin masih miskin dan skripsiku masih belum jelas nasibnya. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa punya alasan kuat untuk bertahan hidup esok hari.
Menjadi pengantar pizza rupanya tidak seburuk itu. Tanggung jawab poin keempat, sepertinya resmi kulanggar hari ini.