CINTA

Surat Terbuka untuk Tuhan

Halo Tuhan,
Apa kabar? aku yakin Kau tetap baik-baik saja, seperti aku yang selalu dijadikan baik olehMu. Aku mencoba memahami kesibukanMu yang belakangan mungkin lebih padat dari biasanya karena situasi dunia yang beragam, maka dari itu surat ini tidak akan terlalu panjang, atau terlalu pendek. Pas, seperti Kau menjadikan hidupku begitu tepat sasaran.

Tak lain dan tak bukan, aku dengan ini ingin berterima kasih dan bersyukur atas penyertaanmu yang begitu sempurna. Terlepas baik atau buruk hidup, aku percaya Kau selalu bekerja dan rencanamu begitu menyenangkan, setidaknya untukku yang menaruh iman.

Yang paling hangat dari ingatan ya tentang pernikahan. Akhirnya aku menikah dengan pilihanMu. Kau pasti sekarang sedang mengernyitkan dahi dan menduga-duga bagaimana aku tahu bahwa istriku adalah pilihanMu? Hahaha mudah sekali. Bahwa dia mendukung, menemani, dan menjadikanku pribadi yang semakin baik adalah indikasi orang yang kau tempatkan sebagai jodoh seseorang, setidaknya untukku yang menaruh iman.

Kau selalu membuatku takjub, dalam hal ini, hubunganku dengan yang sekarang aku sebut istri. Dulu mengenai restu, kali pertama aku menangis hebat. Waktu itu perjalanan dari jalan Kaliurang menuju Condong Catur terasa begitu berat. Entah berapa kali aku mengelap ingus, bahkan sampai ada yang tertelan. Kata orang ingus dan air mata rasanya asin, tetapi yang kurasakan waktu itu hanya pahit.

Aku anggap situasi dulu sebagai jamu. Memang pahit, tetapi sebagaimana jamu adalah menyembuhkan, menenangkan, bahkan membuat badan jauh lebih segar. Apalagi Kau yang meracik. Sepahit apapun, aku selalu percaya bahwa ramuanMu mujarab. Dan terbukti, selang beberapa waktu, kami mengantongi restu. Perlahan tetapi pasti kau mencukupkan kami dari segala sisi.

Singkatnya, aku menikah. Minggu kemarin.

Sebelum kami memutuskan untuk menikah, banyak sekali teman-teman yang mengingatkan untuk berhati-hati dan sabar ketika menyiapkan pernikahan. Kata mereka biasanya akan ada konflik besar yang akan menjadi gesekan hebat untuk pasangan. Bisa dari keluarga, selisih paham, macem-macem deh. Aku makan semua pendapat teman-teman dengan tak lupa berdoa dan berserah sebagai pokok utama persiapan.

Waktu berjalan, lagi-lagi aku dan pasangan dibuat takjub, persiapan pernikahan kami dibuatMu lancar tanpa halangan. Masalah ada, tetapi tidak begitu berarti, kami lewati dengan haha hihi. Aneh banget. Gak cuma sampai di situ, bahkan ketika hari H tiba, kau cerahkan cuaca tempat kami menggelar pemberkatan dan resepsi. Padahal belakangan Jogja hujan sangat deras, bahkan pagi di hari H awan gelap menyelimuti tempat kami. Lhoo kok tiba-tiba panas gak ketulungan. Tanpa pawang atau tipu-tipu, bersamaMu hal-hal buruk seketika berlalu. Keren!!

Ah, masih banyak yang ingin aku ceritakan, tetapi butuh ratusan bahkan jutaan lembar sepertinya tidak cukup. Tuhan, perjalanan masih panjang. Tetap bantu aku jalan. Mau di kanan, kiri, depan, atau belakang gak jadi soal, aku percaya Kau tidak akan meninggalkan.

Cukup sampai di sini suratku. Aku lanjutkan di lain waktu. Dengan penyertaanMu yang semakin seru. Segala puji, hormat, kuasa, dan kemuliaan hanya bagi namaMu. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s