Tak Berkategori

Sepeda Doltrap

Ketika remaja, demi mengikuti tren yang ada saya memutuskan untuk merakit sepeda doltrap. Perbedaan dengan sepeda jenis lain adalah terletak pada bagian teknis pengeremannya. Jika sepeda lain dilengkapi dengan tuas rem di stang, sepeda doltrap tidak. Kita harus menghentakkan pedal ke belakang untuk menghentikan atau memperlambat laju sepeda.

Pernah pada suatu sore saya bersepeda keliling komplek dengan laju yang terbilang cepat. Sialnya, saya lalai untuk memetakan di mana letak polisi tidur. Segera saya menghentakkan pedal sepeda 15cm sebelum tepat mengenai gundukan polisi tidur. Kabar baiknya, saya tidak jatuh terpelanting. Kabar buruknya, betis saya kram tak karuan karena kejut yang dihasilkan oleh teknik pengereman sepeda saya.

Saya percaya sesuatu yang menyakitkan selalu memiliki tujuan baik. Kalau kata orang, semua ada berkahnya. Setidaknya hal ini mensugesti saya untuk bisa berdamai terhadap hal-hal buruk yang terjadi di luar rencana.

Sulit? Sangat. Bikin hidup lebih sukacita? Sangat. Sederhana betul, pilih sukacita atau berkutat dengan betis kram yang sementara alih-alih mensyukuri tidak terpelanting jatuh yang akibatnya bisa jauh lebih buruk.

Jadi, kapan terakhir kamu bersepeda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s