KULINER

Meninjau Produk Ungkapan Kopi Kenangan

kopken

Dalam kurun waktu 5 tahun ke belakang, kopi seakan berubah menjadi primadona di kancah kuliner nusantara, khususnya minuman. Yang sebelumnya terkesan tua sekarang minum kopi banyak dinikmati anak-anak muda, bahkan ada beberapa merek yang membuat peminumnya terasa seperti naik kasta. Entah apa tepatnya yang membuat popularitas kopi begitu cepat menanjak, saya rasa tren ini dimulai ketika film Filosofi Kopi mulai tayang di bioskop-bioskop kesayangan kita. (Kalau kamu sudah jelas kesayangan aku)

Tidak butuh waktu lama untuk membuat para pebisnis di Indonesia mulai menggeluti usaha kopi. Dengan modal minimum, satu cup kopi dapat menghasilkan keuntungan lebih dari 300%. Pengusaha mana yang gak keblinger coba? Hal ini membuat merek-merek kopi sekarang gak cuma starbucks. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana cara mereka bersaing untuk menjadi pilihan nomor satu penikmatnya. Ragam gimmick diproduksi oleh beberapa merek kopi lokal, salah satu yang paling signifikan adalah Kopi Kenangan.

Saya percaya bahwa cinta adalah komoditi, apalagi ditambah tragedi. Banyak sekali cerita dramatis percintaan laris manis di industri hiburan, dari perselingkuhan sampai hal-hal yang berhubungan dengan mantan. Dan Kopi Kenangan pun melihat peluang ini dengan sangat cerdik. Hampir semua menunya memakai diksi tentang kehidupan cinta di masa lalu, yang paling laku adalah “kopi kenangan mantan” terbuat dari racikan gula aren dan kopi susu. Gayung bersambut, dengan cepat Kopi Kenangan menjadi top of mind di masyarakat.

Ya, saya akui bahwa nama-nama di papan menu Kopi Kenangan memang menjadi daya tarik tersendiri. Kalau rasa, ah semua terasa sama saja. Menariknya, saya baru sadar ternyata ada cacat kecil yang dilakukan oleh Kopi Kenangan dalam memproduksi gimmick kata-katanya, yaitu sebuah ungkapan di tas kresek untuk minuman yang dibawa pulang.

“Cukup plastik ini saja yang lecek, jangan hubungan kita”

Tertegun sebentar, membaca ulang, lalu merasa hal ini terlihat begitu dipaksakan. Sebagai praktisi percintaan, saya merasa analogi disampaikan ngawur bukan kepalang. Ada 3 kata yang menjadi fokus saya di kalimat tersebut; plastik, lecek, dan hubungan.

Niatnya adalah menyamakan hubungan dengan plastik. Oke bisa saya terima. Tetapi kemudian menyebut lecek untuk disandingkan dengan hubungan merupakan hal yang gak masuk akal. Hubungan lecek itu kayak gimana sih? lagi malem mingguan terus bajunya belum diserika? ketemu calon mertua tapi lupa mandi? atau bayar dinner pake duit 2000an yang udah dilipet-lipet dari jaman yunani kuno?

Saran saya, carilah irisan yang tepat antara plastik dan hubungan. Bisa juga mengambil unsur lain dari realita percintaan, tidak perlu terlalu harafiah untuk menggabungkan plastik dan hubungan. Nih saya kasih contoh,

“Plastik ini tahan lama, seperti hubungan kita”
“Sementara baru bisa mengantongi kopi susu, restu orang tua kamu nanti dulu”

Udah ah dua aja contohnya, kesenengan lu ntar.

Untuk kalimat pertama, plastik dan hubungan dapat memiliki sifat yang tahan lama. Gak perlu dijelasin lebih lanjut kalian juga pasti udah paham.
Kalimat kedua, dalam sebuah percintaan pasti tidak lepas dari restu orang tua. Kata “mengantongi” menjadi jembatan antara fungsi plastik dan realita di dalam suatu hubungan. Toh di dalam ungkapan sehari-hari “mengantongi restu” sudah menjadi hal yang familiar di telinga masyarakat. Secara rima juga cukup sedap untuk diucapkan.

Untung 2 hari yang lalu saya ngebungkus Kopi Kenangan. Kalau tidak, mungkin tulisan ini tidak akan pernah dibuat dan timbul kerancuan di tengah masyarakat. Semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu referensi tim Kopi Kenangan untuk memperbaiki produk kata-katanya di kemudian hari. Kalau butuh jasa untuk kata-kata juga bisa menghubungi saya. Harga lebih terjangkau dari toko lainnya.

LAH KENAPA UJUNGNYA JUALAN YA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s